Bahasa Indonesia · Thoughts

Menikah… untuk apa?

Siapa perempuan seumuranku yang belum mulai memikirkan masa depan tentang pernikahan?

Kalau ada, aku salut.

Tersandung sebentar melihat foto-foto sepasang laki-laki dan perempuan, yang sudah mulai menjalin hubungan sejak masih SMA. Saya berfikir, “Mungkin suatu saat mereka akan menikah”, dan disitu saya kembali teringat kepada pertanyaan yang masih mengusik saya.

Pertanyaan dan keingintahuan seputar pernikahan bukan dimulai dari kemarin malam. Rasanya, rasa penasaran itu sudah dimulai sejak saya SMA, ketika saya tahu ada kakak alumni yang saling menikah. Saya mulai mencari tahu seperti apa pernikahan itu, bagaimana orang menikah, siapa yang menikah, apa keuntungan dan hambatannya, tapi masih ada satu pertanyaan yang belum bisa saya jawab sampai sekarang: Untuk apa kita menikah?

Apakah hanya karena tuntutan sosial; lulus SMA – lulus kuliah – lalu menikah? Atau karena kurangnya apresiasi terhadap peran wanita di komunitas dan penempatan mutlak bahwa tempat perempuan adalah di dapur? Karena nggak ada kerjaan? Karena males kuliah? Karena untuk menghindari zina – dan semata-mata untuk menghindari zina?

Pernikahan sebagai sarana untuk menghindari diri dari jebakan zina tentu bukan hal yang rendah, bahkan hal yang sangat benar. Tapi saya kurang puas dengan jawaban itu. Juga dengan jawaban-jawaban di atas. Rasanya, itu hanya untuk tujuan-tujuan sementara. Tidak ada hal besar yang ingin diraih.

Hmm, menghindari zina untuk meraih surga-Nya? Tentu siapa yang tidak mau. Tapi apakah pernikahan hanya dilihat dari aspek nafsunya saja?

Sebagai perempuan, salah satu ketakutan yang saya pikirkan adalah berkurangnya produktivitas atau kontribusi yang bisa diberikan setelah menikah (ini semata-mata karena hasil pengamatan dari mayoritas yang saya kenal). Apakah menikah bisa menghilangkan identitas sang istri dan berdiri di bawah bayangan sang suami? Semua perempuan muda pasti masih punya cita-cita besar. Energi lebih yang ingin dituangkan untuk masyarakat. Kemana perginya cita-cita ini setelah menikah?

Kemudian menjadikan perempuan bergantung pada laki-laki. Lupakan cerita yang katanya laki-laki lebih senang perempuan kalau butuh bantuan laki-laki. Kemana perginya laki-laki kuat yang butuh perempuan kuat, yang dengannya mereka bisa jalan lebih jauh dan kuat, dibandingkan satu lelaki kuat yang digantungi perempuan (yang sebenarnya tidak lemah)?

Pernikahan untuk menghindari zina itu tidak salah, hanya saja terlalu sayang jika pernikahan hanya dilihat dari sisi nafsu saja. Ketika rasa itu habis, apakah pernikahan akan selesai? Seharusnya dengan pernikahan dua orang kuat dan hebat, akan semakin banyak manfaat yang bisa diberikan.

Mari cita-citakan pernikahan untuk sesuatu yang besar, yang mulia, yang semuanya diniatkan lagi untuk Allah SWT. Bagi yang sudah menemukan tujuan menikah, selamat mencari calon pasangan dan minta izin ke orang tuanya. Bagi yang belum, mari kita sama-sama mencari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s